Galeri Busana Adat Jawa
Menu

Busana Adat Jawa

Kamis, November 16th 2017.

Busana Adat Jawa

Jual Blangkon Solo Motif Batik Tanpa Sliwir

Kemben

Kemben (Jawa) atau kemban (Indonesia) adalah pakaian tradisional pembungkus tubuh wanita yang secara historis umum ditemui di daerah Jawa dan Bali, Indonesia. Kemben dapat berupa sepotong kain yang membungkus tubuh, baik kain yang polos, kain batik, beludru, atau jenis kain lain yang menutupi dada melilit tubuh wanita.

Kemben secara tradisional dikenakan dengan cara melilitkan sepotong kain menutupi batang tubuh bagian atas, tepi dilipat dan disematkan, diikat dengan tambahan tali, ditutupi dengan angkin atau selempang yang lebih kecil di sekitar perut. Jenis kemben batik tradisional dipakai oleh sebagian besar wanita istana di kraton. Hari ini, ada juga kemben ketat yang dilengkapi atau disematkan dengan menggunakan kancing, tali atau resleting yang serupa dengan korset gaya Barat. Kemben untuk wanita penari tradisional Jawa (srimpi atau wayang wong) biasanya dibuat dari korset beludru yang dijahit.

Kemben mirip dengan cara berpakaian d├ęcolletage Eropa, namun yang membuatnya lebih bergaya asli Indonesia adalah penggunaan kain lokal seperti batik, ikat, tenun, atau songket, dan hanya disematkan dengan melipat tepi pakaian yang diselipkan atau dengan cara mengikat simpul tali pengikat. Secara tradisional, wanita Jawa memakai dua potong kain; pakaian bawahan membungkus di sekitar pinggul yang menutupi bagian bawah tubuh (pinggul, paha dan kaki) dan disebut sebagai kain jarik atau sarung. Sementara sepotong kain yang membungkus tubuh bagian atas (dada dan perut) disebut kemben. Kemben nyaman dipakai pada iklim tropis Indonesia yang panas dan lembab, karena memudahkan ventilasi udara dan penguapan keringat.

Sebelum kebaya menjadi umum di Indonesia, dipercaya bahwa kemben adalah pakaian yang paling lazim dikenakan wanita pada periode Jawa kuno dan Jawa klasik. Busana ini umumnya dipakai pada era Majapahit, sampai dengan era Kesultanan Mataram. Kini, gaun yang memperlihatkan bahu ini masih banyak dipakai di ritual-ritual Indonesia; dikenakan oleh penari Jawa tradisional, atau dipakai oleh wanita istana selama upacara di keraton Jawa.

Kemben dapat dianggap sebagai perwujudan keanggunan, estetika, dan ekspresi feminitas. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kemben mulai ditinggalkan, jarang dipakai, dan telah jatuh nilainya, terutama di antara perempuan Muslim Jawa. Hal ini karena pakaian ini dianggap terlalu terbuka dan dianggap tidak sesuai dengan Syari’at Islam. Hal ini seiring dengan makin banyaknya perempuan Jawa yang mengenakan hijab. Kini, sebagian wanita Jawa mengenakannya hanya saat di rumah saja.

Kebaya

Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.

Asal kata kebaya berasal dari kata arab abaya yang berarti pakaian, namun versi lain menyebut berasal dari kata “Kebyak” atau “Mbayak” dari masyarakat Jawa. Ada pendapat yang menyatakan kebaya berasal dari China. Lalu menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatra, dan Sulawesi. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun, pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat. Namun ada juga pendapat bahwa kebaya memang asli dari Indonesia. Ada juga teori yang mengatakan bahwa kebaya mulai dikenal di Indonesia khususnya di Jawa seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke 13. Hal ini bisa dihubungkan dengan teori penyebaran agama Islam yang dilakukan okeh wali songo dan fakta sejarah yang mengatakan wali songo adalah keturunan cina. Sesuai juga dengan fakta sejarah bahwa laksamana Chengho selain melakukan hubungan dagang juga menyebarkan agama Islam. Ada juga yang mengatakan bahwa kebaya bukan berasal dari China karena pakaian asli China adalah Cheongsam yang berbeda dari kebaya. Hal ini tidak benar, karena kebaya berasal dari ‘Bei zi’ baju dynasty Song dan Ming, sedangkan cheongsam baru mulai dikenal sejak jaman dynasty Ching atau manchu. Kebaya merupakan adaptasi dari’Bei zi’ yang disesuaikan dengan kondisi iklim tropis. Pada awal mulanya kebaya hanya digunakan oleh para bangsawan. Bentuk paling awal dari kebaya di Jawa dapat dilihat dari Keraton Majapahit yang dikenakan para permaisuri atau selir raja. sebagai sarana untuk memadukan perempuan Kemban yang ada, tubuh bungkus dari perempuan aristokrat menjadi lebih sederhana dan dapat diterima oleh yang baru memeluk agama Islam. Aceh, Riau dan Johor dan Sumatra Utara mengadopsi gaya kebaya Jawa sebagai sarana ekspresi sosial status dengan penguasa Jawa yang lebih alus atau halus. Nama kebaya sebagai pakaian tertentu telah dicatat oleh Portugal saat mendarat di Jawa. Kebaya Jawa seperti yang ada sekarang telah dicatat oleh Thomas Stamford Bingley Raffles di 1817, sebagai sutra, brokat dan beludru, dengan pembukaan pusat dari blus diikat oleh bros, bukan tombol dan tombol-lubang di atas batang tubuh bungkus kemben, yang kain (dan pisahkan bungkus kain beberapa meter panjang keliru diberi istilah ‘sarung di Inggris (sarung (aksen Malaysia: sarung) dijahit untuk membentuk tabung, seperti pakaian Barat). Penggunaan brokat merupakan pengaruh dari Portugis.

Beskap

Beskap atau jas tutup adalah sejenis kemeja pria resmi dalam tradisi Jawa Mataraman untuk dikenakan pada acara-acara resmi atau penting. Busana atasan ini diperkenalkan pada akhir abad ke-18 oleh kalangan kerajaan-kerajaan di wilayah Vorstenlanden namun kemudian menyebar ke berbagai wilayah pengaruh budayanya.

Beskap berbentuk kemeja tebal, tidak berkerah lipat, biasanya berwarna gelap, tetapi hampir selalu polos. Bagian depan berbentuk tidak simetris, dengan pola kancing menyamping (tidak tegak lurus). Tergantung jenisnya, terdapat perbedaan potongan pada bagian belakang, untuk mengantisipasi keberadaan keris. Beskap selalu dikombinasi dengan jarik (kain panjang yang dibebatkan untuk menutup kaki.

Blangkon

Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Menurut wujudnya, blangkon dibagi menjadi 4: blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan blangkon Banyumasan. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.

Sebutan Blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat Jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Dulunya blangkon tidak berbentuk bulat dan siap pakai, melainkan sama seperti ikat kepala lainnya yakni melalui proses pengikatan yang cukup rumit. Seiring berjalannya waktu, maka tercipta inovasi untuk membuat ikat kepala siap pakai yang selanjutnya dijuluki sebagai blangkon.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

Sekarang lilitan rambut panjang yang menjadi mondholan sudah dimodifikasi karena orang sekarang kebanyakan berambut pendek dengan membuat mondholan yang dijahit langsung pada bagian belakang blangkon. Blangkon Surakarta mondholannya trepes atau gepeng sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde.

Produk terbaru

Rp 45.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ139
Nama BarangJual Blangkon Udeng Merah Batik Model Iket Khas Solo
Harga Rp 45.000
Lihat Detail
Rp 45.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ138
Nama BarangJual Blangkon Udeng Hitam Polos Sliwir Iket Khas Solo
Harga Rp 45.000
Lihat Detail
Rp 45.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ137
Nama BarangJual Blangkon Udeng Batik Kombinasih Hitam Putih Khas Solo
Harga Rp 45.000
Lihat Detail
Rp 45.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ136
Nama BarangJual Blangkon Udeng Sliwir Motif Batik Model Surakarta Solo
Harga Rp 45.000
Lihat Detail
Rp 85.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ135
Nama BarangJual Blangkon Batik Truntum Model Solo
Harga Rp 85.000
Lihat Detail
Rp 60.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ134
Nama BarangJual Blangkon Batik Khas Gaya Jogja Model Sliwir Koncer
Harga Rp 60.000
Lihat Detail
Rp 70.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ133
Nama BarangJual Blangkon Batik Model Yogyakarta
Harga Rp 70.000
Lihat Detail
Rp 85.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeBJ132
Nama BarangJual Blangkon Model Jogja Mataram Jebeh Tanpa Sliwir
Harga Rp 85.000
Lihat Detail